Story - Dear, Platonic Friend
Hai, Tulisan ini mungkin tidak akan sampai padamu. Tapi akan tetap kutuliskan. Pengakuanku untukmu. Setelah 25 thn, baru kali ini aku mulai memikirkan apa sebenarnya hubungan kita. Kurasa selama ini aku denial. Berpura-pura ini murni platonik. Tapi memang seperti yang kamu pernah bilang garis tipis antara platonik dan romansa itu beda tipis dan berbahaya. Apakah saat ini aku baru melihat garis berbahaya itu? Kurasa aku baru mulai menyadari kakiku sebenarnya berada di 2 wilayah antara romansa dan platonik. Kamu tau kapan aku menyadarinya? Saat kamu sedang usil. Menurutmu itu usil kan? 2x. Kamu mengirimkan bunga mawar dengan caption “biar romansa” tapi katamu kamu tidak pernah terpikir untuk romansa. Kedua, saat kamu berkata “kamu gak takut aku baper?” Lagi-lagi itu hanya usil katamu. Tapi hei, menurutku kamu lain, jika memang kita murni teman, seharusnya tidak ada sedikitpun spot pikiran mengusiliku begitu. Memancing? Apa kamu sebenernya hanya ingin melihat reaksiku? Ingin memastik...