Story - Dear, Platonic Friend

 Hai,

Tulisan ini mungkin tidak akan sampai padamu. Tapi akan tetap kutuliskan. Pengakuanku untukmu. Setelah 25 thn, baru kali ini aku mulai memikirkan apa sebenarnya hubungan kita. Kurasa selama ini aku denial. Berpura-pura ini murni platonik. Tapi memang seperti yang kamu pernah bilang garis tipis antara platonik dan romansa itu beda tipis dan berbahaya. Apakah saat ini aku baru melihat garis berbahaya itu? Kurasa aku baru mulai menyadari kakiku sebenarnya berada di 2 wilayah antara romansa dan platonik.

Kamu tau kapan aku menyadarinya? Saat kamu sedang usil. Menurutmu itu usil kan? 2x. Kamu mengirimkan bunga mawar dengan caption “biar romansa” tapi katamu kamu tidak pernah terpikir untuk romansa. Kedua, saat kamu berkata “kamu gak takut aku baper?” Lagi-lagi itu hanya usil katamu.

Tapi hei, menurutku kamu lain, jika memang kita murni teman, seharusnya tidak ada sedikitpun spot pikiran mengusiliku begitu. Memancing? Apa kamu sebenernya hanya ingin melihat reaksiku? Ingin memastikan perasaanku? Dan pada akhirnya itu membuatku pada kesimpulan, oke aku mungkin denial. Apakah aku memang menyukaimu?

Baiklah, kurasa ini semua dimulai dari 25thn yang lalu. Damn, itu lama sekali. Ntah memang kamu yang super kindness person atau aku yang terlalu baperan. Tapi kamu selalu bersikap baik padaku. Setidaknya menurutku, aku merasa kamu perhatian, tapi tentu saja kamu bilang kamu memang seperti itu ke semua temanmu. Tapi saat itu aku hanya melihat kamu baik dan mungkin itu yang membuatku tertarik. Perasaan bahwa ada yang memperhatikanku.

Bahasa cintamu sepertinya act of service. Banyak momen yang kuingat, tapi tentu saja itu dari POV ku. Kurasa kamu belum tentu ingat, karena kalau memang, itu hanya kebaikanmu untuk teman dan kamu terbiasa seperti itu ke semua temanmu. Kamu ingat dulu kamu mengajakku untuk taruhan nilai. Dan aku jadi sering menerima coklat darimu. Itu fun, buat aku yang penyuka coklat, aku senang sekali dapet bengbeng atau silverqueen.

Atau momen saat kita berjalan kaki bareng untuk keliling gereja. Pulang bareng naik sepeda,kalau dipikir-pikir ngapain juga aku ikut boncengan di siang hari terik begitu. Apa aku merasa lebih nyaman bersamamu, dibanding pulang sendiri naik angkot? Tapi memang aku merasa nyaman dan aman tiap bersamamu.

Kamu pasti gak ingat, tapi pernah suatu kali aku ikut susulan renang, dan jamnya bertepatan dengan jam renang pria dan kamu menawarkan untuk berangkat bareng. Angkot saat itu penuh sekali, karena sudah menunggu lama akhirnya kita naik angkot yang duduknya nyempil kecil, aku sudah mau jatuh, dan kamu yang duduk didepanku bilang “pegangan aku aja sini”. Dan sampai di tempat renang, itu tangga basah karena hujan, dan licin sekali, lagi-lagi kamu menawarkan tanganmu untuk menjadi tempat pegangan aku berjalan. Satu lagi, kita pernah ada jalan-jalan ke curug, waktu itu kakiku terkilir, dan jalan lambat sekali paling belakang, kamu melambatkan jalanmu, menemaniku jalan di paling belakang sambil menopang tanganku (lagi).

Jadi, iya kamu baik sekali. Pria dengan act of service seperti itu tentu saja akan membuatku terkesan. Tapi saat itu aku tidak pernah terpikirkan untuk menjalin hubungan, lagipula dulu teman dekatku menyukaimu. Dan kamu juga digosipkan dengan beberapa wanita lain. Jadi cukup aku hanya mengagumimu saja sepanjang masa sekolah kita. Apakah sebenarnya aku sudah menyukaimu saat itu? Hanya tidak menyadari perasaanku?

Hidup kita terpisah sementara waktu. Sesekali mengirim pesan dan berkabar, lalu kita bertemu kembali di Jakarta. Kamu mengunjungiku hanya untuk makan malam bersama dan mengobrol sebentar. Why? Teman biasa tidak melakukan itu kan. Bahkan saat ini, saat aku perlu teman kamu bersedia meluangkan waktumu untuk meneleponku. Kamu bisa saja menolak dan membatasi dengan strict. Tapi kamu memilih untuk menemaniku. Apa aku hanya GR merasa kamu juga menganggapku teman spesial? Dengan kamu memberi waktumu saja aku sudah merasa spesial.

Tidak,teman. Aku tidak menginginkan apapun. Seperti yang kukatakan diawal, aku hanya ingin mengakui perasaanku. Perasaan bahwa aku menyukaimu, aku menyukai caramu memperhatikanku meski mungkin aku bukan seseorang yang spesial untukmu, aku menyukai suaramu yang bertanya “kamu kenapa? Ayo cerita dong, pasti ada sebabnya kamu kayak gini” aku merasakan ketulusan dalam nada suaramu, dan suara bassmu juga. Membuatku tenang. Rasanya ingin kurekam dan kuputar setiap kali aku insomnia.

Jadi sudah itu saja, kurasa sudah kuungkapkan semuanya. Kamu tidak perlu pusing dan terbebani dengan tulisan ini. Aku hanya ingin berteman dan menikmati kebaikanmu yang seperti ini. Itu saja sudah jauh dari cukup. Mengetahui ada seseorang disana yang ada setiap aku perlu ruang aman untuk sekedar kabur sebentar dari real life.

Aku tidak akan melewati batasan tanpa seijinmu. Dan jika kamu merasa batasan ini berbahaya, tak apa jika kamu ingin pergi. Atau jika kamu ingin berpura-pura tidak membaca tulisan ini pun tak apa. Kita tetap saja seperti ini ya. Teman platonik.

Comments

Postingan terpopuler

Mesin Jahit Portable Mini S2 bermasalah? Perbaiki sendiri yuk

Resign dari PNS

[Review] Laneige Water Bank series ~ Trial Kit