T.E.A Bercerita - Feeling
Tema diskusi mengenai feeling ini udah lama sebenernya. Dari sejak 5thn lah kubahas. Waktu terrible two dan threenya selesai dan mereka udah bisa diajak diskusi tentang berbagai emosi. (usia 4 thn mulai spill tapi belom terlalu nempel) .
Hari ini agak diulang, semacam evaluasi dan reminder lah. Bukan cuma bahas membedakan dan memvalidasi emosi, tapi juga gimana cara yang paling dirasa nyaman untuk mengatasinya. Kan per anak beda tu.
Misal tentang jealous, aku suruh mereka tulis kamu iri sama siapa dan kenapa? Lalu kujelaskan ada iri yang bisa kamu usahakan biar kamu juga bisa seperti dia. Misal iri karena dia pintar. Kan tinggal belajar lebih giat. Tapi ada juga iri yang tidak bisa kamu apa-apakan selain mengubah mindset. Seperti iri karena kulit temannya putih. Gak bisa dong kita mengubah warna kulit, tapiiii bisa kalau kita jadi bersih. Percuma putih kalau bau dan jorok ya kan. Kayak gitu lah.
Lalu menulis dibawahnya apa saja yang membuatmu bersyukur. Karena lawannya iri itu kan dengan bersyukur. Itu berkat yg ditulis lebih panjang daripada rasa iri. Berarti sebenernya kamu lebih beruntung kan.
Tentang sedih, coba kalau lagi sedih paling nyaman diperlakukan bagaimana? Dibiarkan sendiri dulu? Atau mau dipeluk?
Els : Ma, tapi kakak tu misal sedih sebentar, trus udah lupa senang. Tapi kalau teringat lagi sedih lagi.
"Kamu selesaikan dulu perasaan sedihmu dengan ikhlas dan menerima. Jangan cuma dilupain. Kamu hadapi dulu sedihmu. Tapi ya kalau teringat masih sedih juga itu wajar kok, cuma nanti gak akan seberat pas awal."
Ngajarin teori gini itu gampang. Yang paling susah adalah memastikan kita sendiri udah mengerjakan yang kita ajarkan. Dengan anak-anak yang kritis yang suka balikin kata-kata emaknya ituuu, siap-siap aja diprotes kalau ngajarin yang kita sendiri masih struggle disitu 😂
Soal amarah, emang kadang kalau udah emosi ke ubun-ubun gitu ya, aku tu suka diem, tapi katup gigi kuat2, muka menegang, mata agak melotot, itu semua menahan biar gak teriak 😂 sambil kabur ke kamar atur napas dulu atau hentak hentak kaki sambil kepal tangan di kamar.
Jadi aku bisa bilang "kamu kalau marah, sana cari tempat menyendiri, atur emosimu, atur napasmu, kalau perlu pelampiasan, kamu bisa lompat-lompat atau hentak kaki di lantai. Jangan menyakiti dirimu, barang, atau orang lain"
Els "oh kayak mama gitu? Tapi muka mama tu serem kalau lagi nahan napas gitu"
"Kalau serem gak usah diliat. Buat mama cara itu efektif. Coba mama kalau marah lama gak? Gak kan, sebentar doang abis itu kita udah bisa ketawa lagi"
Jelasin dikit bagaimana amarah mempengaruhi amigdala dan sistem organ lain dengan kalimat penutup "kalau kamu marah lama, yang rugi siapa? Diri sendiri. Orang yang kamu keselin kena pengaruh gak? Gak kan."
Lagi-lagi, siap-siap aja di smash balik kalau kita gak praktek yang kita ajarkan. Emang ngajarin anak tu kadang gak perlu banyak omongan, mereka tu cuma tinggal meniru kita aja. Tinggal kitanya mau kasih contoh yang gimana.
Bahasannya berat? Disini sih mereka udah terbiasa diskusi begini. Soalnya yang mereka tanyain biasanya lebih berat lagi temanya 😂

Comments
Post a Comment